Kehilangan
Kehilangan adalah bagian dari kehidupan tiap manusia. Kita
perlu belajar untuk menghadapinya, agar bisa meninggalkannya dan dan
melanjutkan hidup kita. Kadang kita tidak siap untuk mengalami sebuah
kehilangan, rasa tidak percaya bahwa sesuatu atau seseorang telah tiada, perasaan
perasaan bahwa semua hal tersebut tidak nyata untuk disedihkan.
Ketika saya mengalami kehilangan seseorang, perasaan hampa
menyelimuti selama beberapa hari sampai ahirnya saya biarkan perasaan itu pudar
serta mengejar semua ketinggalan yang saya alami seperti mengerjakan tugas atau
sibuk dengan kegiatan-kegiatan kampus saya. Dan beberapa bulan kemudian saya
menemukan sebuah buku do’a dengan sebuah puisi yang saya sendiri lupa isinya,
namun kalimat yang mengakar dalam benak saya adalah “Bila kita ketemu lagi”.
Untuk pertama kalinya perasaan duka muncul seutuhnya, untuk pertama kalinya
saya merasa kehilangan.
Saya sering menangisi hal-hal kecil namun tidak pernah
mencurahkannya kepada siapapun.
Hanya kali itulah saya merasakan duka atas kehilangan saya,
hari-hari berikutnya saya kembali membiarkan perasaan itu pudar, menghindari
semua tempat dan hal yang akan memunculkan perasaan duka itu, dan mungkin itu
salah satu kesalahan besar saya. Hingga saat ini saya merasa ada satu bagian terlewat
dari hidup yang saya jalani.
Salah satu buku yang saya baca mengatakan :
Lari dari rasa sedih,
bersembunyi dari rasa sedih takkan berhasil. Berpura-pura selalu bahagia adalah
kepalsuan. Jika terjadi sesuatu yang tidak indah, kamu boleh merasa sedih, dan
jika kamu tidak bisa merasa sedih, berarti kamu putus dari dunia batin kamu –
kamu nggak bisa memahami perasaan kamu yang sebenarnya.
Jadi siapkah anda untuk membicarakan kehilangan?
October 2nd, 2007 at 7:00 pm
Mbak Dela, kenapa ya seorang manusia bisa merasa kehilangan pada apa yang tidak pernah dimilikinya?
Menarik apa yang Mbak tulis. Saya pun sekarang sedang mengalami “kehilangan”, “kehilangan” seorang manusia yang benar-benar tidak pernah saya miliki.
Salahkah jika bersedih atas keadaan ini?
Salahkah air mata yang menetes menangisinya yang justru takpernah peduli?
Salahkah jika saya pun bertanya dalam hati:
“Kapan kita bertemu lagi?”
Hidup itu ya Mbak… sering absurd…
November 25th, 2007 at 9:47 pm
Kadang berada sesaat di dalam dunia mimpi dapat mengembalikan saya ke realita. Kalo pengen nangis ya nangis aja, mudah-mudahan bisa melegakan beban biar sedikit